Sabtu, 09 Februari 2008

sang Lucifer


Dulu kala ada makhluk buruk rupa yang dikutuk keluar dari neraka karena selalu berkata yang baik-baik, padahal dirinya sangat nyaman sekali dengan kehangatan neraka. Ketika sampai di bumi dia merasa seperti di rumahnya yang dahulu karena ternyata bumi juga sama hangatnya dengan neraka hanya bedanya di neraka semua orang jujur kalo mengakui mereka itu penjahat sedangkan di bumi yang penjahat mengaku sebagai orang baik dan orang baik memilih diam.

Anehnya ketika dia sampai di bumi, ternyata tiap orang di bumi tidak ada yang ketakutan begitu melihat dia. Perasaan diterima seperti ini membuat dia berangsur-angsur mulai melupakan neraka yang panas. Tapi kenyataan bahwa dia hanya dikutuk selama 30 hari memaksanya harus berpikir untuk terus menetap di bumi. Setelah 30 hari maka akan diputuskan apakah dia akan kembali ke neraka atau dimusnahkan.

Dia berencana menjadikan 30 hari di bumi sebagai hari-hari yang tidak akan pernah dilupukan dalam sejarah hidupnya. Di sisi lain dia juga sedikit rindu dengan suasana di neraka. Untuk mencapai impiannya itu, maka dia merencanakan kejahatan yang tidak akan pernah dilupakan oleh tiap orang di bumi. Dengan kejahatan yang dibuatnya, dia berharap dapat diterima lagi sebagai anggota tetap persekutuan neraka jahanam.

Di minggu pertama dia menyebarkan fitnah untuk mengadu domba tiap manusia bumi. Tapi ternyata keadaan di bumi sudah penuh dengan fitnah, maka apa yang dia lakukan tidak dianggap oleh raja neraka sebagai suatu yang original. Dia lalu berpikir keras untuk melancarkan kejahatan yang super dahsyat.

Di minggu kedua, dia merasuki pemimpin-pemimpin dunia untuk menciptakan perang. Hal ini juga gagal karena perang yang telah dirancang pemimpin dunia jauh lebih mengerikan dari pada yang dirancangnya. Kegagalan ini lagi-lagi mengubur impiannya untuk mendapat tiket mulus kembali ke neraka.

Lalu kemudian minggu ketiga dan keempat dengan pasrahnya, dia tidak melakukan apa-apa alias diam karena benar-benar tidak ada ide. Dia hanya melihat dan berkeliling di bumi melihat tiap kejahatan terjadi tiap detiknya. Bahkan dia juga bisa merasakan dan membaca pikiran-pikiran jahat dari tiap orang yang ditemuinya. Selama 2 minggu terakhir itu, dia hanya mencatat kejahatan-kejahatan yang ditemuinya.

Akhirnya tibalah hari ke-30, hari dimana dia harus menghadap raha neraka untuk menentukan nasib terakhirnya.

“Kejahatan apa yang sudah kau lakukan untuk dunia?”, tanya sang raja.

“ Aku tahu kau maha tahu tentang kejahatan-kejahatan. Kau pun pasti tahu bahwa 2 minggu pertama kejahatan yang ku lakukan tak berarti apa-apa. Kau pun juga telah melihat 2 minggu terkhir ini aku hanya diam saja dan tidak melakukan kejahatan. Aku kini pasrah atas putusanmu.” Jawabnya dengan pasrah.

“Oke kalau begitu. Kau kini boleh masuk kembali ke dalam kerajaan neraka. Kau akan kuberi jabatan penting di sini.” Jawab sang raja dengan mantap.

“Hah, bagaimana bisa? Bukankah kau melihat sendiri tidak ada kejahatan yang berarti telah kulakukan untukmu.” Jawabnya dengan perasaan tak menentu antara gembira dan bingung.

“Aku sangat terkesan dengan 2 minggu terakhirmu. Kau tidak melakukan apa-apa di saat kau tahu bagaimana mencegah kejahatan-kejahatan besar terjadi tiap detiknya di bumi. Kau bisa membaca pikiran orang dan sebenarnya kau bisa mencegah mereka melakukan kejahatan. Tapi kau memilih diam dan hanya mencatat saja. Bagiku diam di saat sesuatu yang benar harus dilakukan adalah kejahatan yang paling besar.” beber sang raja dengan lugas.

“Dengan ini kau kuberi jabatan sebagai malaikat pencabut nyawa yang mencatat tiap kejahatan orang dan mencabut nyawa orang yang akan meninggal. Kau kuberi nama Lucifer. Mulai hari ini kau kuutus ke bumi sebagai utusan neraka.” tambah sang raja dengan mantap.

Sejak saat itulah, Lucifer selalu berkeliling di bumi mencatat tiap kejahatan manusia. Dia juga selalu siap untuk mecabut nyawa manusia menjelang ajalnya dan memberikan laporan-laporan tentang dosa manusia di hadapan pengadilan. Dia inilah saksi kehidupan, sang Lucifer.

-nOeL-

tenang saja teman...


setelah lama gak nulis, bisa dibilang selama januari gak ada produktivitas di ngopijoss.. Tapi akhirnya kembali. Pagi ini aku mau ngulas tentang ketenangan
Di jaman ini, setiap aktivitas dan mobilitas kita dituntut dengan deadline2 yang kadang2 membuat stress. Padahal ketika kita sedang stress, dijamin apa yang akan kita kerjakan menjadi tidak optimal. Semua menjadi seadanya saja. Tidak ada lagi kualitas di situ . Yang ada hanya pemenuhan tuntutan. Celakanya, kalau hal itu terjadi terus menerus secara berkelanjutan, secara tidak sadar kita seperti menjadi budak atas nama pekerjaan atau uang. Kita menjadi tidak tolerir lagi akan hal2 lain yang bersifat manusiawi di sekitarnya.

Sungguh kejam memang. Tapi itulah yang terlihat sekarang ini di tengah masyarakat. Sebagai contoh, di kelas masih banyak orang yang mencontek. Masih menjamurnya korupsi di mana2. Sekarang ini manusia menjadi kompetitor bagi sesamanya. Tidak ada lagi semangat untuk maju bersama-sama. Saling mengisi kekurangan satu dengan yang lain. Impiannya menjadi semakin kerdil lagi. Sudah tidak bebas.

Sebenarnya apa masalahnya hingga menjadi sedemikian parah? Satu kesimpulan kecil, manusia sekarang adalah generasi yang tidak pernah tenang. Mereka terlalu khawatir akan apa yang harus dilakukan esok hari, apa yang harus dipersiapkan agar memiliki masa depan cerah, apa yang harus dimakan esok hari, dan masih banyak lagi kekhawatiran lainnya. Kekhawatiran inilah yang menyebabkan manusia mulai kehilangan identitas atau hakikat pribadinya. Mereka menjadi produk dari jaman-nya sendiri. Jarang sekali muncul suatu kepercayaan diri untuk keluar dari belenggu ini. Jarang muncul mimpi2 indah akan masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri dan bagi dunia.

Kalau masalahnya seperti itu, lalu apa solusinya? Solusinya bisa mudah bisa juga sulit. Kuncinya adalah ketenangan.  Seperti saat berdoa, ketenangan akan membawa kita dalam dialog yang bersifat pribadi antara diri kita 
dengan jiwa kita ataupun dengan Tuhan. 
Saat tenang itulah kita bisa menjadi seutuhnya diri kita bukan menjadi yang "seharusnya" 
Ketika diri kita tenang, saat itulah secara tidak sadar kita menarik diri sejenak dari keramaian dunia untuk berdialog atas apa yang harus kita lakukan dalam menjadi diri kita.

Ketenangan disini juga identik dengan kesabaran. Ketenangan di sini bukan berarti lambat. Yang dimaksud di sini adalah bagaimana kita secara jernih dan obyektif menilai suatu persolan lalu mengolahnya dalam batin untuk kemudian menyimpulkan aksi yang harus dilakukan. Dalam ketenang perlu adanya positif dan obyektif dalam berpikir.

Maka dari tiu, sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah kita siap menjadi diri kita sepenuhnya? dalam belajar apakah kita dituntut atau menuntut ilmu? bekerja demi uang atau bekerja karena cinta? apakah kita lebih banyak memberi atau menerima?

tarik nafas panjang. rasakan kesegaran. hembuskan nafas, buang kepenatan. tarik nafas lagi, rasakan pergerakan udara dalam hidung masuk ke tubuh. rasakan ketenangan dan kenyamanannya. Bertindak dan bekerjalah dengan perasaan seperti kita menarik nafas. Hidup itu indah, maka dari itu hidup harus bermakna.