Judul itu tertulis di baju Joger yang aku beli November lalu saat untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di pulau Dewata. Simpel tapi relevan. Yah itulah alasan kenapa aku memilih baju itu diantara yang lain.Tapi bukan berarti yang lain itu jelek, tapi emang baju itu "feel" nya dapet hehehe...(ini bukan bullshit).
Bicara soal bullshit atau yang akrab di telinga kita dengan sebutan omong kosong mungkin sering kita dengar atau malah kita menjadi salah satu pelaku omong kosong itu...Hehehe, maaf kalau tersinggung.
Nah, di sini aku mau bercerita sedikit tentang bullshit.
Pagi tadi saat cuaca masih dingin karena matahari belum tapak matang, aku sudah mengendarai motor perak menembus jalanan Jogja dengan niat mampir ke rumah saudara tua. Biasanya di waktu sepagi itu, diriku ini pasti masih asyik dengan dunia mimpi yang menawarkan segala seuatu yang sulit kuraih di dunia nyata. Yah, karena sudah terlanjur janji, aku harus tiba di rumahnya maksimal jam 6.10.
Dalam perjalanan yang setengah ngantuk, di tengah jalan yang lumayan sepi itu hampir saja aku terpleset karena menghindari kotoran yang tampak masih hangat di tengah jalan. Sekilas tampak seperti kotoran sapi atau mungkin kotoran kuda. Dasar binatang, pagi-pagi buta sudah bangun. Pantas saja hidupnya gak pernah susah. Aku percaya dengan cerita nenek yang mengatakan kalau kita bangun pagi2, maka rejeki kita akan banyak dan hidup kita jadi enak. Enaknya jadi binatang, bangun pagi tanpa harus dikejar target harus sampai di suatu tempat tepat waktu. Ingin rasanya sesekali merasakan menjadi mereka. Hahahaha...
Nah, akibat kehadiran kotoran di tengah jalan itu, entah kenapa, selama seharian aku selalu terbayang akan kotoran dan kotoran padahal itu benar2 gak penting. Sesampainya di rumah saudara tua-ku, aku berharap supaya pikiran tentang kotoran bisa hilang. Aku sampai di rumah itu tepat jam 6.10, sesuatu yang jarang sekali aku bisa lakukan bahkan untuk makan saja aku tidak pernah on-time. Mau-nya sih on-time, tapi kalo dituruti kantong ini bisa bolong. Hahaha...
Sesampainya di dalam rumah aku disambut dengan senyum oleh saudaraku itu. Senyumnya itu, membuatku merasa nyaman sekali. Tapi seketika itu, tiba-tiba dia berbicara tentang kotoran2 dan sampah2 di depan rumahnya yang baru saja dia sapu karena tahu kalo aku mau datang. Di satu sisi aku jadi merasa tidak enak, karena untuk aku yang bukan siapa2 ini dia mau membersihkan halamannya, padahal tiap kali dia mampir ke rumahku tidak pernah ada persiapan apa2 karena aku terlalu sibuk untuk membersihkan halaman. Jangankan halaman rumah, kamar tidurku pun bisa satu bulan sekali aku bersihkan, itupun saat aku sedang rajin. Di sisi lain, ceritanya membuatku mengingatkanku akan kotoran yang baru saja ingin aku buang jauh2 dari pikiranku.
Tapi, karena dia saudara tua-ku terpaksa aku menanggapi ceritanya dengan menceritakan tentang kotoran yang aku lihat di jalan. Aku katakan padanya, kalau kotoran itu bener2 brengsek karena merusak suasana pagi hari yang jarang2 aku rasakan. Membuat pikiranku yang tadinya begitu segar menjadi keruh akibat memikirkan seuatu yang tidak penting itu.
Dia menanggapi dengan senyuman...
Aku benar2 heran, kenapa tiap kali menyangkut soal kotoran, dia selalu tersenyum. Atau memang dia ini pencinta kotoran. Tapi itu benar2 aneh. Saat kutanya alasannya tersenyum, dia malah bercerita pendek.
Kotoran baginya adalah sebagai sebuah lambang kesempurnaan. Semakin besar kotoran keluar semakin sempurna makhluk yang mengeluarkannya karena pekerjaan mengeluarkan kotoran adalah pekerjaan yang paling sulit dan pekerjaan yang sifatnya sangat personal. Semakin banyak kotoran keluar maka semakin bersih jiwa dan raganya. Semakin besar kotoran maka semakin besar perjuangannya untuk mengeluarkan segala hal-hal negatif dari dalam tubuh.
Yah, memang saudara tua-ku ini agak aneh.
I hate bullshit...Gara2 melihat kotoran hewan, aku jadi membenci kotoranku yang susah banget keluar dari tubuhku. Yah semoga saja, seiring berjalannya waktu, semakin besar kotoran yang bisa kubuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar